Senin, 17 Desember 2012

NALAR SEHAT ALA SUNNY (non wahhabi)



NALAR SEHAT ALA SUNNY (non wahhabi) 



Sebelum membaca risalah yang kecil ini, ada baiknya Saudara-saudaraku mengheningkan hati sejenak dan membuang doktrin-doktrin ta'ashubiyah kemazhaban agar dapat membaca risalah ini nantinya dengan sikap yang netral dan pikiran yang jernih.
Ada sebuah fenomena yang sangat pelik telah mendorong saya untuk menulis sebuah risalah sederhana ini dimana sebagian orang telah menjadikan tarku an-Nabi atau dalam bahasa kita (hal-hal yang ditinggalkan atau tidak dilakukan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam) itu sebagai hujjah (alasan hukum) untuk mengharamkan amal ibadah orang lain.
Pertanyaannya adalah apakah benar jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam meninggalkan atau tidak melakukan suatu perkara, lantas menjadi haram hukumnya bagi kita untuk melakukan suatu perkara itu? Saya harap Saudara-saudaraku sekalian memahami pertanyaan saya itu sebab di situlah inti dari pembahasan kita ini.
Sebelum kita menjawab pertanyaan di atas ada baiknya kita memahami dahulu sebuah pertanyaan yang lebih mendasar lagi, apakah benar jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak melakukan sesuatu, berarti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ingin memberitahukan kita bahwa sesuatu itu haram?
Jawabannya tentu saja tidak, karena di sana ada sebab-sebab lain mengapa Rasulullah meninggalkan sesuatu yang berarti bukan serta-merta sesuatu yang ditinggalkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam itu haram dilakukan oleh kaum muslimin.
Diantaranya adalah:

1.      Terkadang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam meninggalkan sesuatu hanya karena adat atau kebiasaan saja, seperti yang pernah terjadi ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat bertamu ke suatu kaum dimana mereka disuguhkan daging dhob (biawak padang pasir) panggang dan kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam membentangkan tangannya yang mulia untuk mengambil daging itu, dan serta merta sahabat mengatakan wahai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam itu adalah daging dhob. Langsung Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menarik tangannya kembali dan tidak jadi mencicipi dhob tersebut. Kemudian para sahabat bertanya, "Apakah ianya haram wahai Rasulullah?"
Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Tidak, hanya saja daging dhob ini tidak ada di tempatku maka aku merasa tidak suka untuk memakannya." Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh para sahabat untuk melahap daging itu dan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam melihat dan membiarkan mereka.
Dari riwayat yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim di atas, sangat jelas bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam meninggalkan memakan daging dhob bukan karena ingin memberitahukan bahwa daging dhob itu haram, tetapi karena sebab lain yaitu beliau tidak suka dengan daging dhob.

2.      Terkadang Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam meninggalkan sesuatu karena takut sesuatu itu diwajibkan kepada umatnya. Seperti Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam meninggalkan sholat tarawih justru ketika para sahabat berkumpul untuk mengikuti tarawehnya dari belakang.

3.      Terkadang pula Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam meninggalkan sesuatu karena tidak terpikir atau terlintas dibenaknya untuk melakukan sesuatu itu. Seperti dulu Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam khutbah jum'at hanya di atas sebuah tunggul kurma dan tidak pernah terlintas sebelumnya dalam benak Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam untuk membuat sebuah mimbar sebagai tempat berdirinya ketika khutbah. Kemudian para sahabat mengusulkan untuk membuat mimbar, Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pun menyetujuinya sebab memang itu sebuah usulan yang baik dan membuat semua jama'ah dapat mendengar suara Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam.

4.      Terkadang Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam meninggalkan sesuatu karena sesuatu itu bebas boleh dikerjakan dan boleh tidak dikerjakan semisal ibadah-ibadah tathowwu' seperti sedekah, zikir, sholat dhuha, tilawah qur'an dan sebagainya. Ibadah-ibadah ini jika ditinggalkan tidak mengapa dan jika dikerjakan sebanyak-banyaknya maka termasuk sebagaimana yang dikatakan dalam keumuman ayat:...dan lakukanlah kebajikan agar kamu beruntung. (Al-Hajj:77)
Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam tidak melakukan sholat dhuha setiap hari. Bukan berarti Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam ingin memberitahukan kepada kita bahwa sholat dhuha tiap hari itu haram. Begitu pula zikir selepas sholat, terkadang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam meninggalkannya dengan berbagai alasan seperti perang, menunaikan hak kaum muslimin dan sebagainya. Bukan berarti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ingin memberitahukan kepada kita bahwa melakukan zikir setiap kali selesai sholat adalah haram.

5.      Pernah juga Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam meninggalkan sesuatu karena sesuatu itu adalah perkara sensitif yang dikhawatirkan akan menyinggung perasaan kaum Quraisy pada waktu itu sehingga berpengaruh akan menggoyang keimanan mereka yang masih baru. Seperti Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pernah meninggalkan untuk tidak merehab kembali bangunan ka'bah kepada ukuran semula sebagaimana yang pernah dibangun Nabi Ibrahim As sebab khawatir banyak kaum muslimin Quraisy yang masih baru keislamannya pada waktu itu akan berubah hatinya kembali kepada kekafiran.

6.      Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam juga meninggalkan untuk menulis hadits-hadits beliau di masa hidupnya karena takut tercampur dengan ayat-ayat Alquran yang juga sedang disuruh untuk menulisnya di daun-daun, tulang-tulang, batu-batu dan pelepah kurma. Ini bukan berarti menulis hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam itu haram hukumnya. Dan buktinya sepeninggal Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dan setelah Alquran dibukukan, kaum muslimin bersepakat untuk menuliskan dan membukukan hadits-hadits Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.

Dari sedikit contoh di atas dapat kita jawab pertanyaan di awal risalah ini bahwa jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam meninggalkan atau tidak melakukan suatu perkara maka tidak menjadi haram hukumnya bagi kita untuk melakukan suatu perkara itu.

Berikut saya sertakan dalil dari Alquran dan sunnah akan pernyataan saya di atas:
1.      Biasanya untuk menunjukkan sesuatu itu haram, Alquran dan sunnah menggunakan lafazh-lafazh larangan, tahrim atau ancaman siksa ('iqob), seperti:
...dan janganlah engkau dekati zina...(Al-Isra:32)
...dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan cara yang batil...(Al-Baqarah:188)
Diharamkan atasmu bangkai dan daging babi...(Al-Maidah:3)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Siapa yang berdusta maka bukan daripada golongan kita."
Dari nash-nash di atas, para ulama mengistimbath hukum bahwasanya zina, memakan harta orang lain secara batil, memakan bangkai dan babi serta berbohong adalah haram. Dan tidak pernah di dalam istimbath hukum, para ulama kita menggunakan tark Nabi (sesuatu yang ditinggalkan atau tidak dikerjakan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam) sebagai hujjah untuk mengharamkan sesuatu.

2.      Coba perhatikan ayat dan hadits berikut ini:
...dan apa-apa yang didatangkan Rasul kepadamu maka ambillah dan apa-apa yang dilarang Rasul maka tinggalkanlah...(Al-Hasyr:7)

3.      Bahwasanya para ulama ushul fiqih mendefinisikan sunnah sebagai: perkataan perbuatan dan persetujuan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dan bukan tark-nya
Jadi siapapun yang melakukan sesuatu dan sesuatu itu tidak pernah dilakukan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam tidak bisa dikatakan dia telah bertentangan dengan sunnah, sebab tark bukan bagian dari sunnah.

4.      Para ulama ushul fiqih telah bersepakat semuanya bahwa landasan hukum (hujjah) untuk menentukan sesuatu itu wajib, sunnah, mubah, haram dan makruh dengan empat landasan hukum yaitu: Alquran, sunnah, ijma' dan qiyas. Dan tidak pernah at-tark dijadikan sebagai landasan hukum (hujjah).

Begitulah cara para ulama kita mengetahui hukum dari sesuatu perkara. Dan saya melihat hanya sebagian kecil saja ulama-ulama yang menggunakan at-tark ini sebagai hujjah.
Ulama yang pertama sekali menggunakan at-tark ini sebagai hujjah adalah Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan sekarang diikuti manhaj ini oleh para ulama Arab Saudi dan cara seperti ini tidak pernah dilakukan oleh ulama-ulama salaf sebelum beliau (Imam Ibnu Taimiyah). Ini adalah sebuah kekhilafan yang sangat fatal sebab akan menyebabkan banyak sekali perkara-perkara sunnah lagi baik digolongkan kepada bid'ah hanya karena perkara-perkara itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.
Ini akan menyempitkan ladang amal dan ibadah bagi kaum muslimin, padahal kita semua sudah tahu bahwa ladang amal dan ibadah itu bagi kaum muslimin sangat luas sampai- sampai seluruh perkara yang bernilai manfaat dan diniatkan untuk Allah adalah ibadah dan seluruh hamparan bumi ini di anggap sebagai tempat sujud oleh Islam.
Yah...begitulah manusia, terkadang benar dan terkadang salah. Terlebih dalam ijtihad agama, benarnya diberi pahala dua dan salahnya masih diberi pahala satu. Dan sebagaimana kata Imam Malik radhiyallahu 'anhu: "Setiap kalam itu mungkin ditolak dan mungkin diterima kecuali kalam penghuni kubur ini (mutlak dapat diterima)". Imam Malik sambil mengisyaratkan tangannya kepada maqam Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ketika berziarah ke maqam Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam.

Wallahu a'lam.

oleh Kaheel Baba Naheel

Disarikan dari kitab Husnut-Tafahumi wa Ad-Darki Limas'alatit-Tark lil imam Abdillah Shodiq

Jumat, 14 Desember 2012

Kalam Al-Habib Muhammad Lutfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya:



Kalam Al-Habib Muhammad Lutfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya:



1.      Kalimat Laa ilaa ha illa Alloh

Kalimat Laa ilaa ha illa Alloh tidak sekadar diucapkan, tetapi dihunjamkan ke dalam hati. Makna: tidak ada zat yang wajib disembah kecuali ALLOH Subhanahu wata'ala. Selain ALLOH Subhanahu wata'ala adalah makhluk-hawadits yang baru.
Dari bacaan tsb dpt mengukir setiap hati mukmin, bisa menepis segala kesyirikan. Syirik itu bermakna luas, bahkan pakaian bisa membuat syirik. Jika kita tidak pake pakaian/jubah maka kita tidak dikenal sbg ulama/ustad maka ini sebagai penyebab syirik dlm berpakaian. Demikian pula pekerjaan jika kita tidak bekerja, maka kita tidak makan, maka bekerja ini menjadi syirik. Demikian jg kendaraan bisa menyebabkan syirik, jika kita bepergian tidak menggunakan kendaraan ini maka kita tidak sampai. Ini pun bisa menjadikan syirik. Mengapa? Karena semua itu adalah wasilah-sarana, karena hakikatnya adalah ALLOH Subhanahu wata'ala yang menggerakkan.
Pembekalan dlm sholat harus terimplementasi dlm kehidupan. Oleh sebab itu sholat harus lengkap, tidak sekadar niat, bahkan mengajak seluruh anggota tubuh u/ sholat baik mata, telinga, mulut, tangan, lisan dikenalkan kepada ALLOH Subhanahu wata'ala
"Laa ilaa ha illa Alloh".... Sehingga seluruh tubuh tidak akan bermaksiat kpd Allah karena sudah mengenal ALLOH Subhanahu wata'ala .
Tidak cukup sampai disitu, mata, telinga, mulut, tangan, budi pekerti, kaki dan anggota tubuh lainnya dikenalkan kepada "Muhammadur Rosululloh". Fisik dan hati bisa menjadi bersih karena dikenalkan kepada ALLOH Subhanahu wata'ala dan Rosul-Nya. Dengan sholat seluruh anggota tubuh dibasuh, dimandikan minimal 5x sehari = 450 sebulan. Masya Alloh! Bersih karena air wudlu...sudah sepatutnya anggota tubuh kita pun bersih dari perilaku apalagi sudah dikenalkan pada Laa ilaa ha illa Alloh.
Jika fisik dibersihkan 5x, pertanyaannya berapa kali hati kita dibersihkan? Jika tidak pernah maka di hati akan berkarat. Maka ucapan, mata, dan anggota tubuh akan melakukan sesuatu yang dilarang ALLOH Subhanahu wata'ala . Bgm caranya membersihkan? salah satunya membaca kalimat Laa ilaa ha illa Alloh muhammadur Rosululloh

 Pekalongan Jawa Tengah Jum'at Kliwon 07-12-12


2.      Jangan Saling Merendahkan “Al” (Marga) Lain

 ‘Alaikum bi Al-Hadad: Anda hidup harus siap ditempa. Kalau Anda bisa
menggali kemampuan diri sendiri berarti:
'Alaikum bi Al-Yahya: Anda Hidup, tahu arti hidup. Tahu nilai hidup.
Orang yang tidak pernah menempa diri, tidak akan tahu arti hidup, akhirnya hidup untuk makan. 
Setelah itu: wa‘Alaikum bi Al-Faqih; kalau Anda tahu arti hidup Anda akan tahu
hukum.
Maka Anda akan: bil Bafaqih, Anda akan menguasai sebenarnya arti hidup.
Kalau Anda faham: ‘Alaikum bi Al-Athas, penyakit dalamnya hilang, mental kuat.
Kalau penyakit lahir-dalam bersih: ‘Alaikum Ba’Abud, Anda akan jadi orang Ahli Ibadah.
Kalau Anda jadi Ahli Ibadah ‘Alaikum bi Syihab, Anda akan bercahaya dan memancarkan cahaya.
Kalau Andai badahnya luar biasa 'Alaikum bi Jamalullail, Anda tidak akan menyia-nyiakan bangun malam: tahajud.
Kalau Anda bangun malam ‘Alaikum bil ‘Idrus, keliling melihat keadaan para saddah (sayid-sayid) Alawiyin dan kaum muslimin lainnya.
Kalau Anda sudah ‘al Idrus Fa ‘alaikum bi as Saqaf, mengayomi.
Kalau sudah mengayomi baru Anda akan menjadi: Syekh Abi Bakar bin Salim. Guru dan bapak dari para Saddah. Oleh sebab itu jangan saling merendahkan “al” (marga) lain

Senin, 10 Desember 2012

Hizib Falah

Hizib Falah



Ini Hizib Falah yang didapat melalui Gusuna wa Ustadzuna Begawan Semprul dan diijazahkan dari Gusuna wa Ustadzuna Cecep Karim Hasyim El-Kareem (Gus Cecep bin Abdul Karim bin Hadhrotussyekh Hasyim Asy'ari) yang bermuara dari Sayyidina Syekh Abul Hasan asy Syadzili, monggo untuk diwaos, didawamkan sebagai bentuk Reorientasi kembali terhadap Hadhratussyekh Hasyim Asy'ari

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّه الذِّي لَم يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيْكُ فِي الْمُلْكِ وَ لَم يَكُنْ لَه وَلِيُّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا.الْحَمْدُ لِلّهِ الّذِى هَذانَا لِهذا وَ مَا كُنّ لِنَهْتَدِى لَوْلاَ اَنْ هَدَانَا اللهُ. لَقَدْ جَاءَتْ رَسُلُ رَبِّنَا بِالْحَق.
جَزَى اللهُ عَنَّا سَيِّدّنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ مَاهُوَ اَهْلُهُ ثَلَاثًا.
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ . ثَلَاثًا.
اَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَق .ثَلَاثاً. 
بِسْمِ اللهِ الّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِه شَيْئٌ فِي اْلأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. ثَلاَثًا.
سُبْحَانَ رَبّى العَظِيْم وَ بِحَمْدِه وَ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إلاَّ بِا اللهِ العّلِيّ العَظِيْم. ثلاثا.
اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ.ثلاثا.
اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الّذِي لاَ اِلهَ اِلاَّ هُوَ الْبَدِيْعُ السَّموَاتِ وَ اْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا مِنْ جَمِيْع جُرْميْ وَ ظُلْمىْ وَمَا جَنَيْتُه عَلَى نَفْسِىْ وَ اَتُوْبُ اِلَيْهِ.ثَلاَثًا.
لاَ الهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ الرَّسُوْلُ اللهِ. عَشْرًا.
ثَبـِّـتْنَا يارَبِّ بِقَوْلِهَا وَانْفَعْنَا يامَوْلاَىَ بِفَضْلِهَا وَجْعَلْنَا مِنْ خَيْرِ اَهْلِهَا وَحْشُرْنَا فِىْ زُمْرَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ آمِيْنَ.ثَلَاثًا.
تَرْحَمُ بِهَا الْوَالِدَيْنِ آمِيْنَ بِبـَركَةِ الصَّالِحِيْن بِجُوْدِكَ تُبْ عَلَيْنَا يا عَالِمًا بِحَالِنَا يارَبِّ اِقْبَلْ صَرْفَنَا يَارَبِّ اغْفِرْ ذَنْبَنَا. نَسْأَلُكَ رَبَّنَا بِخَاتَمِ النَّبِيِّنَ وَ الشُّكْرُ لِلّه عَلَى فَضْلِ الله. وَالْحَمْدُ لِلّه رَبِّ الْعلَمِيْنَ.
(خاصية)
فونيكا ويريدان حزب الفلاح للأستاذ الأكبر أبي الحسن الشاذلى رضي الله عنه. سينتن كع مداومهاكن ماهوس فونكا حزب بعد صلاة الصبح و بعد الصلاة العصر و عند ارادة النوم ان شاء الله تعالى كافاريعان كابكجان في الدنيا و الاخرة و أجزت لمن وقع هذ الحزب في يده وهو أهل للاجازة بحق اجازتي عن شيخنا العلامة محمد محفوظ بن عبد الله إسماعيل الجاوي ثم المكي عن السيد محمد امين إبن السيد احمد المداني عن الشيخ عبد الغني النقشبندي عن الشيخ إسماعيل بن الرومي ثم المداني عن الشيخ صالح الفلاني عن ابن سنة عن مولاي الشريف محمد بن عبد الله الوولاتي عن ابي عثمان سعيد قدوره عن سعيد بن ابن احمد المقري عن عبد إبن علي عن البرهان القلقشندي عن اب العباس احمد بن محمد ابن اب بكر الوسطى عن الخطيب صدر الدين ابى الفتح محمد ابن احمد الميدومي عن ابى العباس احمد المرسى عن مؤلفه سيدي ابي الحسن على بن عبد الله ابن عبد الجبار الشاذلى الشّريف الحسانى رضي الله عن الجميع و نفعنا بهم و امدنا بأسرارهم و اعاد علينا من بركتهم امين
الفقير اليه تعالى:
محمد هاشم اشعرى-خادم العلم بتبوايرع

Kamis, 06 Desember 2012

ULAMA-ULAMA INDONESIA DI HAROMAIN (MAKKAH DAN MADINAH) EMBRIO NU DI INDONESIA



ULAMA-ULAMA INDONESIA DI HAROMAIN (MAKKAH DAN MADINAH) EMBRIO NU DI INDONESIA

Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi Bin Ali Bin Hasyim Bin Yahya



Banyak diantara kita yang kepaten obor, kehilangan sejarah, terutama generasi-generasi muda. Hal itupun tidak bisa disalahkan, sebab orang tua-orang tua kita, sebagian jarang memberi tahu apa dan bagaimana sebenarnya Nahdlatul Ulama itu.
Karena pengertian-pengertian mulai dari sejarah bagaimana berdirinya NU, bagaimana perjuangan-perjuangan yang telah dilakukan NU, bagaimana asal usul atau awal mulanya Mbah Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan NU dan mengapa Ahlus sunah wal jamaah harus diberi wadah di Indonesia ini.
Dibentuknya NU sebagai wadah Ahlu Sunah bukan semata-mata KH Hasyim Asy’ari ingin ber-inovasi, tapi memang kondisi pada waktu itu sudah sampai pada kondisi dloruri, wajib mendirikan sebuah wadah. Kesimpulan bahwa membentuk sebuah wadah Ahlus Sunah di Indonesia menjadi satu keharusan, merupakan buah dari pengalaman ulama-ulama Ahlu Sunah wal jama'ah, terutama pada rentang waktu pada tahun 1200 H sampai 1350 H.
Pada kurun itu ulama Indonesia sangat mewarnai, dan perannya dalam menyemarakan kegiatan ilmiyah di Masjidil Haram tidak kecil. Misal diantaranya ada seorang ulama yang sangat terkenal, tidak satupun muridnya yang tidak menjadi ulama terkenal, ulama-ulama yang sangat tabahur fi ilmi Syari’ah, fi thoriqoh wa fi ilmi tasawuf, ilmunya sangat melaut luas dalam syari’ah, thoriqoh dan ilmu tasawuf. Dintaranya dari Sambas, Ahmad bin Abdu Somad Sambas. Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama-ulama besar seperti Kyai Tholhah Gunung jati Cirebon.
Kiai Tholhah ini adalah kakek dari Kiai Syarif Wonopringgo, Pekalongan. Muridnya yang lain, Kiai Syarifudin bin Kiai Zaenal Abidin Bin Kiai Muhammad Tholhah. Beliau diberi umur panjang, usianya seratus tahun lebih. Adik seperguruan beliau diantaranya Kiai Ahmad Kholil Bangkalan. Kiai kholil lahir pada tahun 1227 H. Dan diantaranya murid-murid Syeh Ahmad sambas yaitu Syekh Abdul Qodir Al Bantan, yang menurunkan anak murid, yaitu Syekh Abdul Aziz Cibeber Kiai Asnawi Banten. Ulama lain yang sangat terkenal sebagai ulama ternama di Masjidil Harom adalah Kiai Nawawi al Bantani.
Beliau lahir pada tahun 1230 H dan meninggal pada tahun 1310 H, bertepatan dengan meninggalnya mufti besar Sayid Ahmad Zaini Dahlan. Ulama Indonesia yang lainnya yang berkiprah di Masjidil Harom adalah Sayid Ahmad an Nahrowi Al Banyumasi, beliau diberi umur panjang, beliau meninggal pada usia 125. Tidak satupun pengarang kitab di Haromain; Mekah-Madinah, terutama ulama-ulama yang berasal dari Indonesia yang berani mencetak kitabnya sebelum ada pengesahan dari Sayidi Ahmad an Nahrowi Al Banyumasi.
Syekh Abdul Qadir Al Bantani murid lain Syekh Ahmad bin Abdu Somad Sambas, yang mempunyai murid Kiai Abdul Latif Cibeber dan Kiai Asnawi Banten. Adapun ulama-alama yang lain yang ilmunya luar biasa adalah Sayidi Syekh Ubaidillah Surabaya, beliau melahirkan ulama yang luar biasa yaitu Kiai Ubaidah Giren Tegal, terkenal sebagai Imam Asy’ari-nya Indonesia.
Dan melahirkan seorang ulama, auliya besar, Sayidi Syekh Muhammad Ilyas Sukaraja. Guru dari guru saya Sayidi Syekh Muhamad Abdul Malik. Yang mengajak Syekh Muhammad Ilyas muqim di Haromain yang mengajak adalah Kiai Ubaidah tersebut, di Jabal Abil Gubai, di Syekh Sulaiman Zuhdi. Diantaranya murid muridnya lagi di Mekah Sayidi Syekh Abdullah Tegal. Lalu Sayidi Syekh Abdullah Wahab Rohan Medan, Sayid Syekh Abdullah Batangpau, Sayyidi syekh Muhmmad Ilyas Sukaraja, Sayyidi Syekh Abdul Aziz bin Abdu Somad al Bimawi, dan Sayidi Syekh Abdullah dan Sayidi Syekh Abdul Manan, tokoh pendiri Termas sebelum Kiai Mahfudz dan sebelum Kiai Dimyati.
Dijaman Sayidi Syekh Ahmad Khatib Sambas ataupun Sayidi Syekh Sulaiman Zuhdi, murid yang terakhir adalah Sayidi Syekh Ahmad Abdul Hadi Giri Kusumo daerah Mranggen. Inilah ulama-ulama indonesia diantara tahun 1200 H sampai tahun 1350. Termasuk Syekh Baqir Zaenal Abidin jogja, Kyai Idris Jamsaren, dan banyak tokoh-tokoh pada waktu itu yang di Haromain. Seharusnya kita bangga dari warga keturunan bangsa kita cukup mewarnai di Haromain, beliau-beliau memegang peranan yang luar biasa. Salah satunya guru saya sendiri Sayyidi Syekh Abdul Malik yang pernah tinggal di Haromain dan mengajar di Masjidil Haram khusus ilmu tafsir dan hadits selama 35 tahun.
Beliau adalah muridnya Syekh Mahfudz Al Turmidzi. Mengapa saya ceritakan yang demikian, kita harus mengenal ulama-ulama kita dahulu yang menjadi mata rantai berdirinya NU, kalau dalam hadits itu betul-betul tahu sanadnya, bukan hanya katanya-katanya saja, jadi kita harus tahu darimana saja ajaran Ahli Sunah Wal Jamaah yang diambil oleh Syekh Hasyim Asy’ari.
Bukan sembarang orang tapi yang benar-benar orang-orang tabahur ilmunya, dan mempunyai maqomah, kedudukan yang luar biasa. Namun sayang peran penting ulama-ulama Ahlu Sunah di Haromain pada masa itu (pada saat Syarif Husen berkuasa di Hijaz), khsusunya ulama yang dari Indonesia tidak mempunyai wadah. Kemudian hal itu di pikirkan oleh kiai Hasyim Asy’ari disamping mempunyai latar belakang dan alasan lain yang sangat kuat sekali.
Menjelang berdirinya NU beberapa ulama besar kumpul di Masjidil Harom, -ini sudah tidak tertulis dan harus dicari lagi nara sumber-sumbernya, beliau-beliau menyimpulkan sudah sangat mendesak berdirinya wadah bagi tumbuh kembang dan terjaganya ajaran Ahlu Sunah Wal Jamaah. Akhirnya di istiharohi oleh para ulama-ulama Haromain, lalu mengutus Kiai Hasyim Asy’ari untuk pulang ke Indonesia agar menemui dua orang di Indonesia, kalau dua orang ini mengiakan jalan terus kalau tidak, jangan diteruskan. Dua orang tersebut yang pertama Habib Hasyim bin Umar Bin Toha Bin Yahya Pekalongan, yang satunya lagi Mbah kholil Bangkalan.
Oleh sebab itu tidak heran jika Mukatamar NU yang ke 5 dilaksanakan di Pekalongan tahun 1930 M. Untuk menghormati Habib Hasyim yang wafat pada itu. Itu suatu penghormatan yang luar biasa. Tidak heran kalau di Pekalongan sampai dua kali menjadi tuan rumah Muktamar Thoriqoh. Tidak heran karena sudah dari sananya, kok tahu ini semua sumbernya dari mana? Dari seorang yang soleh, Kiai Irfan. Suatu ketika saya duduk-duduk dengan Kiai Irfan, Kiai Abdul Fatah dan Kiai Abdul Hadi. Kiai Irfan bertanya pada saya “kamu ini siapanya Habib Hasyim?”. Yang menjawab pertanyaan itu Kiai Abdul Fatah dan Kiai Abdul Hadi; “ini cucunya Habib Hasyim Yai”.
Akhirnya saya di beri wasiat, katanya; ‘mumpung saya masih hidup tolong catat sejarah ini. Mbah Kiai Hasyim Asy’ari datang ketempatnya Mbah Kiai Yasin, Kiai Sanusi ikut serta pada waktu itu. Disitu diiringi oleh Kiai Asnawi Kudus, terus diantar datang ke Pekalongan, lalu bersama Kiai Irfan datang ke kediamannya Habib Hasyim. Begitu KH. Hasyim Asy’ari duduk, Habib Hasyim langsung berkata, ‘Kyai Hasyim Asy’ari, silahkan laksanakan niatmu kalau mau membentuk wadah Ahlu Sunah Wal Jamaah. Saya rela tapi tolong saya jangan ditulis’.
Itu wasiat Habib Hasyim, terus Kyai Hasyim Asy’ari merasa lega dan puas. Kemudin Kiai Hasyim Asy’ari menuju ke tempatnya Mbah Kiai Kholil Bangkalan, kemudian Mbah Kyai kholi bilang sama Kyai Hasyim Asyari laksanakan apa niatmu saya ridlo seperti ridlonya Habib Hasyim tapi saya juga minta tolong, nama saya jangan ditulis.’ Kata Kiai Hasyim Asy’ari ini bagaimana kyai, kok tidak mau ditulis semua. Terus mbah Kiai Kholil menjawab kalau mau tulis silahkan tapi sedikit saja. Itu tawadluknya Mbah Kyai Ahmad Kholil Bangkalan. Dan ternyata sejarah tersebut juga dicatat oleh Gus Dur.
Inilah sedikit perjalanan Nahdlotul Ulama. Inilah perjuangan pendiri Nahdlotul ulama. Para pendirinya merupakan tokoh-tokoh ulama yang luar biasa. Makanya hal-hal yang demikian itu tolong ditulis, biar anak-anak kita itu tidak terpengaruh oleh yang tidak-tidak, sebab mereka tidak mengetahui sejarah. Anak-anak kita saat ini banyak yang tidak tahu, apa sih NU itu? Apa sih Ahlu Sunah itu? La ini permasalahan kita. Upaya pengenalan itu yang paling mudah dilakukan dengan memasang foto-foto para pendiri NU, khususnya foto Hadrotu Syekh Kiai Hasyim Asy’ari. 

(Disampaikan oleh Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi Bin Ali Bin Hasyim Bin Yahya pada Harlah NU di Kota Pekalongan).

Minggu, 02 Desember 2012

Perjumpaan al-Habib Mundzir bin Fuadz al-Musawa dengan Waliyullah Malaysia


Perjumpaan al-Habib Mundzir bin Fuadz al-Musawa dengan Waliyullah Malaysia.



Al-Habib Mundzir al-Musawa sering berkunjung pada al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus manakala beliau sedang berada di Malaysia. Al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus sangat gembira jikalau ada al-Habib Mundzir datang.
Beliau al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus selalu tersenyum gembira. Sesaat kemudian al-Habib Munzdir meminta doa dari beliau, maka beliau pun berdoa untuknya. Biasanya al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus selalu menolak untuk berdoa kecuali tamunya yang mesti berdoa, namun permintaan kali ini tak ditolak oleh beliau seraya mengangkat kedua tangannya setinggi-tingginya hingga ke atas kepala. Kedua telapak tangannya dipadukan, dan wajah beliau menunduk. Suara rintih keluar dari bibirnya tak bisa dipastikan apa yang diucapkannya. Benar-benar gerakan doa yangg menggambarkan posisi yang sedang sangat mengemis pada Dzat Yang Maha Luhur. Belum pernah al-Habib Mundzir melihat seseorang yang berdoa dengan posisi sekhusyu’ dan seperti ini dalam merendahkan dirinya pada Allah Swt.
Setelah itu al-Habib Mundzir pamitan seraya berkata lembut: “Saya pamit wahai Habib...”
Beliau al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus menunduk dan berkata dengan lembut pula: “Tidak makan dulu kah?”
Al-Habib Mundzir menjawab: “Saya pamit jika habib ridho.”
Beliau al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus pun berdiri dan mengizinkan kepergian al-Habib Mundzir, lalu terbersit dalam hati al-Habib Mundzir: “Aku terbebani hutang sangat besar karena masalah perluasan dakwah di Indonesia, mudah-mudahan kedatanganku ke sini bisa membuat Allah menyelesaikan masalah hutang-hutangku, beban beratku ini kutumpahkan pada al-Habib Ali, semoga Allah Swt. meringankanku”, demikian renungan al-Habib Mundzir saat itu sambil melangkah keluar dari kediaman beliau.
Saat itu al-Habib Mundzir tidak sendiri, ada beberapa orang yang bersamanya. Mereka berkata: “Kami sering kunjung ke sini, belum pernah al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus mau berdoa kecuali saat kamu yang memintanya, belum pernah al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus izinkan kami pamitan di waktu makan kecuali saat kamu yang minta izin pulang.”
Dan salah satu diantara mereka adalah seorang pengusaha yang sukses. Maka ketika al-Habib Mundzir beserta rombongan sudah keluar rumah, al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus memanggil orang itu dan membisikinya sesuatu, lalu beliau masuk ke dalam rumah.
Orang tersebut mendatangi al-Habib Mundzir dan berkata: “Habib Ali berkata pada saya, kamu punya hutang dakwah yang besar dan berat yang harus dibayarkan. Saya diperintah al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus untuk melunasi semua hutangmu.”
Al-Habib Mundzir kaget dan berpaling pada al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus, namun beliau sudah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
Di lain waktu, al-Habib Mundzir datang bersilaturrahim pada al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus. Dalam kepala al-Habib Mundzir penuh dengan permasalahan dakwah bagai gunung yang menindih, kesibukan, masalah perluasan dakwah, pengaturan dakwah dan lain sebagainya. Maka ia datang dengan lemah, duduk di hadapan al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus. Maka al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus terdiam, diam, lalu menggeleng-gelengkan kepala beliau, lalu menangis, dan berkata: “Berat… berat..,” sambil mengipasi dirinya dengan kipas di tangannya dan mengipasi al-Habib Munzir pula.
Tak lama kemudian al-Habib Mundzir meminta pamit untuk undur diri. Beliau al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus pun mengangkat kedua tangannya untuk berdoa mendoakan al-Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa.
Belum sampai al-Habib Mundzir di Jakarta, seluruh masalah dakwah beliau ternyata telah terselesaikan. Ini adalah kisah nyata betapa dahsyatnya doa shalihin.

Catatan tambahan: Al-Habib Ali bin Ja’far al-Aydrus adalah seorang waliyullah kelahiran Purwakarta, Jawa Barat pada tahun 1919 M dan pernah lama tinggal di Subang Jawa barat di masa kecilnya. Beliau wafat pada Kamis petang, tanggal 28 Jumadil Akhir 1431 H (13 Mei 2010 M), 40 hari setelah kewafatan al-Quthb al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf (Jeddah).

Sya’roni as-Samfuriy, Indramayu 18 Muharram 1434 H

Sabtu, 01 Desember 2012

KISAH KEMULIAAN AKHLAK AL-HABIB UMAR BIN HAFIDZ


KISAH KEMULIAAN AKHLAK AL-HABIB UMAR BIN HAFIDZ

Al-habib Umar bin Hafidz Makan Makanan Sisa Santri-Santrinya



Suatu ketika saat al-Habib Mundzir sedang mondok di Rubath Darul Musthafa Yaman, saat itu di Yaman dalam kondisi perang, sehingga segala hal serba sulit.
Di saat stok makanan sudah menipis, karena saat itu pengiriman makanan dari luar Yaman diblokir oleh pihak penjajah, makanan hanya cukup untuk keluarga al-Habib Umar bin Hafidz.
Namun apa yang terjadi, ketika al-Habib Mundzir selesai makan beliau memergoki anak al-Habib Umar bin Hafidz sedang mengambil sisa-sisa makanan al-Habib Mundzir dan santri-santri yang lain.
Lantas al-Habib Mundzir mempertanyakan kepada anak tersebut sedang apa. Dengan polosnya anak al-Habib Umar bin Hafidz menjawab: “Saya mengambil sisa-sisa makanan yang tersisa buat Abah (al-Habib Umar bin Hafidz) yang belum makan.”
Demikianlah akhlak Guru Mulia al-Habib Umar bin Hafidz yang begitu mulia.  Walau al-Habib Umar bin Hafidz dan keluarganya tidak makan asalkan santri-santrinya tidak kelaparan.
Adakah dari kita yang sanggup mencontoh akhlak beliau al-Habib Umar bin Hafidz yang rela mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri meskipun dalam kondisi yang sangat sulit.
Allahumma sholli wasallim ‘alaa sayyidinaa Muhammadin sholaatan taj’alunaa bihaa min ahlil ‘ilmi dzoohiron wabaathinan. Watahsyurunaa bi’ibaadikashshoolihiina fii dunyaanaa wa ukhroonaa. Aamiin yaa Mujiibassaailiin.


Sya’roni as-Samfuriy, Cirebon 17 Muharram 1434 H