Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Desember 2013

BID’AHKAH MEMBACA AL-QURAN UNTUK MAYYIT?


“Kisah Syaikh Hasan Jabar Al-Azhar dan Santrinya”


Syaikh Hasan Jabar, beliau adalah guru besar, dosen tafsir dan ilmu Tafsir di Universitas al-Azhar serta pengajar di Masjid al-Azhar.

Syaikh Hasan Jabar pada kuliahnya di Masjid al-Azhar hari Ahad kemarin memberikan penjelasan yang ciamik perihal bacaan al-Quran yang dihadiahkan kepada mayyit. Berikut percakapan beliau dengan kami para muridnya.

Syaikh Hasan Jabar: “Semua orang mati itu dikatakan mayyit kan? Baik yang sudah dikubur maupun yang hendak dikubur?”

Kami: “Iya, Syaikh.”

Syaikh Hasan Jabar: “Bukankah Rasulullah Saw. melakukan shalat Jenazah?”

Kami: “Iya, Rasulullah Saw. melakukannya.”

Syaikh Hasan Jabar: “Takbir pertama saat shalat Jenazah, apa yang dibaca?”

Kami: “Surat al-Fatihah, Syaikh.”

Syaikh Hasan Jabar: “Surat al-Fatihah itu termasuk dari al-Quran tidak?”

Kami: “Termasuk dari al-Quran, Syaikh.”

Syaikh Hasan Jabar: “Lha iya, Rasulullah Saw. sendiri membacakan al-Quran kepada mayyit. Kok iya ada sebagian orang yang bangga mengatakan hal itu bid’ah dan sesat. Justru merekalah yang membid’ahkan dan menyesatkan Rasulullah Saw. Dan merekalah yang sejatinya melakukan bid’ah.”

Syaikh Hasan Jabar menambahkan: “Sebarkan dan sampaikan ini kepada orang lain agar umat kita bisa bersatu lagi dan selamat dari propaganda mereka.”

(Oleh: Gus Mas Yaqien, salah satu murid Syaikh Hasan Jabar yang waktu itu turut hadir mengikuti pengajian di Masjid al-Azhar).

Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 10 Desember 2013



Selasa, 25 Desember 2012

MEMBENTUK GENEASI INTELEKTUAL QUR'ANIC



MEMBENTUK GENEASI INTELEKTUAL QUR'ANIC

 

Al-Qur'an sebagai "Hudal Linnas (هدى للناس) dapat memberikan bimbingan dan petunjuk kepada manusia untuk bisa memecahkan setiap permasalahan hidupnya (problem solving). Namun, itu memerlukan penafsiran Al-Qur'an secara baik dan benar berdasarkan pendekatan-pendekatan (approach) ilmu tafsir itu sendiri supaya orang-orang atau kelompok-kelompok manusia tidak mentafsirkan Al-Qur'an secara sembarangan berdasarkan kepentingan hawa nafsunya, yang akibatnya akan membawa kesesatan dan merugikan Islam sendiri.

Dengan demikian, untuk membentuk Generasi Intelektual Qur'anic, maka kita harus mengetahui dan mengkaji pendekatan-pendekatan tersebut. Adapun pendekatan-pendekatan yang ada di dalam kitab tafsir Al-Qur'an itu beraneka ragam, yaitu:

1.      Pendekatan Sejarah (Historical Approach), seperti: Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Qurthubi dll.
2.      Pendekatan Sosial (Social Approach), seperti: Tafsir Jalalain, Tafsir Munir, Tafsir Al-Maroghi dll.
3.      Pendekatan Saintifik (Scientific Approach), seperti: Tafsir Al-Jawahir.
4.      Pendekatan Sufi (Sofistic Approach), seperti: Tafsir Ruhul Ma'ani / Tafsir Alusi.
5.      Qur'anic Approach (Pendekatan Al-Qur'an), seperti: Tafsir Adwa'ul Bayan.
6.      Pendekatan Hadits (Hadits Approach), seperti: Tafsir Ad-Durrul Manshur dll.
7.      Dan sebagainya.

Begitupula seorang generasi Intelektual Qur'anic harus memahami metode-metode yang terdapat di dalam penafsiran Al-Qur'an. Adapun metode-metode penafsiran Al-Qur'an itu beraneka ragam, namun pada dasarnya terbagi kepada 4 bagian besar, yaitu:

1.      Al-Manhaj At-Tahlily (Metode Analistis).
2.      Al-Manhaj Al-Ijmaly (Metode Global).
3.      Al-Manhaj Al-Muqorin (Metode Komperatif).
4.      Al-Manhaj Al-Maudhu'i (Metode Topikal).

Untuk lebih jelasnya mengenai ke-4 metode tersebut di atas bisa juga dilihat di link ini:http://nashir6768.multiply.com/journal/item/6
 
Thobary Syadzily